Da'wahTerkini

SYIAR DEBAR ‘Kewajiban Umat Kepada Ulul Amri’ Oleh: Ustad Dr.Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Salat mungkin menjadi contoh paling konkrit bagaimana Islam mendidik umat untuk taat kepada pemimpin (ulul amri/pemegang kekuasaan). Diantaranya dengan memilih seorang pemimpin (imam), mengikutinya (loyalitas), menyiapkan pengganti (badal imam) yang kompeten jika imam batal di tengah salat. Juga yang tak boleh dilupakan adalah kewajiban untuk memperingatkan imam jika keliru, dengan cara yang baik tentunya, yaitu ucapan subhanallah”. Semua kewajiban ini harus dipahami makmum (umat) agar menghadirkan satu salat yang harmonis.

Namun, kewajiban tidak berdiri sepihak. Bukan hanya makmum yang memiliki kewajiban, namun imam pun memiliki aturan. Diantara yang paling penting adalah mengerti bagaimana memimpin salat dengan sebaik mungkin. Jika imam diketahui tidak mengerti rukun salat hendaknya segera diganti, bukan diikuti. Apalagi bagi makmum yang ternyata mengerti betul rukun salat (faqîh), tidak boleh bermakmum kepada yang tidak mengerti. Inilah batas-batas kewajiban makmum (umat) dan imam (pemimpin).

Siapapun yang menjadi makmum, apalagi posisinya tepat di belakang iman, harus menjadi orang pertama yang mengingatkan imam saat keliru. Bukan justru “kura-kura dalam perahu” pura-pura tidak tahu. Jika terjadi model jamaah yang demikian, dimana antar imam dan makmum terjadi konspirasi untuk mempertahankan hegemoni salat jamaah yang rusak, hendaknya bagi siapapun yang mengerti untuk menegur dan tidak lagi mengikutinya.

Jika bangsa Indonesia diibaratkan aktivitas salat, maka hendaknya umat harus memperhatikan dengan baik, apakah rakyat dan pemimpin mengetahui kewajibannya masing-masing. Saat terjadi pembagian bantuan akibat covid-19 yang tidak adil, isi paket yang kadaluarsa, isi paket yang dikurangi, wajiblah bagi umat menegur. Apalagi seperti kasus saat ini dimana terjadi lonjklan tarif listrik hingga seratus persen yang terjadi hampir diseluruh wilayah, wajiblah bagi umat untuk menegur ulul amri.

Salat yang benar dan tertib akan menghasilkan kekhusyuan, dari khusyu melahirkan kebaikan setelah salat. Maka, jika sholatnya bangsa ini benar dan tertib niscaya tidak akan terjadi kekacauan dan kesemrawutan. Adanya kekacuan adalah tanda harus adanya teguran yang baik dan perbaikan. Inilah batas taatnya umat kepada ulul amri yang relatif untuk maslahat bersama, bukan ketaatan mutlak seperti kepada Allah dan Rasul-Nya. (MUKHRIJ/Debar)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close