Da'wahTerkini

SYIAR DEBAR ‘Menikmati Jamuan Ilahi di Bulan Suci’ Oleh: Ustad Dr.Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud ra disebutkan bahwa Al-Quran adalah hidangan (jamuan) Allah SWT, “Sesungguhnya, Al-Quran adalah hidangan dari Allah, terimalah hidangan-Nya semampu kalian. Al-Quran adalah tali Allah. Cahaya yang terang dan obat penyembuh yang bermanfaat. Al-Quran perisai bagi yang berpegang teguh kepadanya dan penyelamat bagi yang mengikutinya. Ia tidak akan menyimpang sehingga perlu diminta kembali. Ia tidak akan bengkok yang menyebabkan ia perlu diluruskan”.

Rasulullah SAW juga melanjutkan hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar juga Al-Hakim ini dengan sabdanya. “Al-Quran tidak akan pernah habis keajaiban-keajaibannya. Tidak akan pernah lenyap kemuliaan dan kelezatannya karena sering diulang. Bacalah Al-Quran, Allah akan memberi pahala kepadamu. Bacaan itu untuk setiap hurufnya sepuluh kebajikan. Saya tidak mengatakan kepada kalian bahwa ‘alif lam mim’ itu satu huruf, tetapi ‘alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf.”

Kata ma’dubah berarti undangan untuk menikmati jamuan, atau panggilan untuk acara makan. Ungkapan ma’dubah dalam hadis di atas memberi kesan kuat kepada kita, bahwa Al-Qur’an adalah sesuatu yang membangkitkan selera, yang dapat dinikmati dan menghadirkan kenikmatan, dan dipersilahkan untuk menyantap hidangan tersebut sesuai kemampuan dia menyantap. Karena boleh jadi tidak semua hidangan mampu disantapnya. Meski begitu, seseorang boleh jadi menolak dan tidak memenuhi undangan jamuan tersebut.

Dalam konteks bulan Ramadhan, sangat jelas sekali, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang diidentikkan dengan Al-Quran. Kata “Syahr Ramadhan” hanya disebutkan satu kali dari seluruh Al Quran, dan yang satu-satunya itu dikaitkan langsung dengan Al-Quran, bahkan dalam satu ayat tersebut, sepertiganya justru berbicara tentang Al Quran. Ini merupakan satu penekanan, bahwa Ramadhan itu Al-Quran (selain lailatul Qadr tentunya) dan Al-Quran itu paling nikmat dinikmati di bulan Ramadhan. Maka, kita menyaksikan banyak umat Islam yang berlomba-lomba untuk mengkhatamkannya dengan sebanyak-banyaknya.

Mudah-mudahan kita dianugerahi organ tubuh yang sehat sehingga mampu menikmati hidangan tersebut. Karena hanya penyakitlah yang menghalangi kita untuk menikmati hidangan, dan orang yang enggan menikmati ma’dubatullah adalah mereka yang di dalam dirinya terdapat penyakit (fî qulûbihim maradhun).(MS/Debar)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close