SYIAR DEBAR ‘Berkah Musim Hujan’ Oleh: Ustad Dr.Mukhrij Sidqy, MA
DEBAR.COM.-DEPOK- Hujan dalam Al-Quran selalu diidentikkan dengan keberkahan. Allah SWT berfirman “Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS: Qaaf [50] : 9). “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS: Asy-Syuura [41] : 28).
Makna “penuh berkah” boleh berarti “selalu memberi berkah”, bisa jadi pula “lebih sering memberi berkah daripada menjadi musibah”. Makna pertama adalah dengan tumbuhnya tanam-tanaman yang beragam warna dan rasanya serta menghidupkan bumi yang tandus. Makna kedua adalah meski banyak yang kehilangan harta, namun justru ada rezeki sebagian orang yang hanya datang disaat banjir, seperti tukang gerobak yang memfasilitasi motor mogok yang melintasi banjir. Dari kedua makna ini, banjir lebih sering membawa berkah.
Dilihat dari segi apapun, memang jelas banjir lebih sering membawa berkah. Jika banyak kendaraan rusak karena banjir, maka tukang bengkelpun akan “kebanjiran” pelanggan, satu sisi banjir air, sisi lain banjir langganan. Artinya, inilah sunnatullah yang berlaku di alam semesta, buruk untuk satu manusia, tapi boleh jadi sangat baik untuk manusia lainnya. Bahkan, kalau bukan karena hujan dan banjir, tidak akan ada proyek recovery drainase tahunan yang membawa berkah bagi penggali lubang.
Musibah sebenarnya dari hujan adalah apabila orang sibuk saling menyalahkan karena banjir, tetapi tidak memiliki kesadaran untuk sama-sama menjaga lingkungan. Bukankah banyak sekali bangunan pribadi dan umum yang menutup saluran air, bahkan tak sedikit masjid (rumah ibadah) yang buta lingkungan, dalam artian tidak mau memberi sedikitpun ruang serapan air, malah menutup seluruhnya dengan ruangan. Bukahkah ini aneh, ingin mencari perhatian Allah dengan memperluas, tetapi mengabaikan lingkungan.
Tidak ada musibah yang buruk apabila disikapi dengan baik, yaitu dengan menimbulkan kesadaran untuk menjaga kebersihan, memberi hak air untuk mengalirnya, dan merecovery saluran air dengan sebenar-benarnya bukan hanya formalitas. Sebaliknya, tidak ada hal yang baik apabila cara kita menyikapinya buruk, yaitu dengan sibuk saling menghujat dan mencaci maki.(MUKHRIJ/Debar)
