Syiar Debar ‘Manusia dan Alam Semesta’ Oleh: Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Manusia dan alam semesta khsusus nya bumi memiliki hubungan langsung, bahkan bisa dibilang saudara kandung. Karena manusia berasal dari tanah bumi ini “Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain. (QS. Taha: 55)

Selain itu bumi dan segala yang ada didalamnya diberikan taklif (beban) sehingga mereka bertasbih kepada Allah SWT sebagaimana manusia juga bertasbih meski dengan cara yang berbeda. “Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) ibadah dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nuur: 41)

Perbedaan antara manusia dan alam semesta adalah, alam ini tidak memiliki daya untuk mendurhakai Allah SWT, sedangkan manusia memiliki ikhtiyar untuk mendurhakai Allah SWT. Maka, saat manusia taat kepada Allah SWT mereka berlaku selaras dengan alam semesta. Sebaliknya, saat manusia melakukan kedurhakaan, mereka berposisi dengan laku alam semesta, inilah yang menyebabkan ketidakselarasan manusia dan alam semesta.

Rasulullah SAW diutus untuk mengembalikan keselarasan antara manusia dengan sesamanya juga alam semesta yang didalamnya ada jin, hewan dan tumbuhan. Beliau SAW mengajarkan akhlak dengan standar ke-Tuhan-an mengajarkan cara bertasbih dan memuji Allah SWT. Sehingga alam ini bergembira dengan kedatangan Rasulullah SAW. Maka tidak heran jika batu bisa dipanggil dan bersyahadat dihadapan Rasulullah SAW, pohon kurma menangis yang tangisannya terdengar oleh sahabat karena posisinya diganti oleh mimbar untuk khutbahnya Rasulullah SAW, begitupun dengan unta, kambing yang menunjukkan laku tidak biasa dihadapan Rasulullah SAW.

Dari sini kita mengerti mengapa dianjurkan untuk memperbanyak tempat sujud, karena bumi akan bersaksi kelak bahwa kita pernah bersujud kepada Allah SWT di atas punggungnya. Karenanya, yang mampu menjaga keseimbangan alam semesta ini hanyalah ketaatan kepada Allah SWT. Inilah maksud dari hadis, “Tidak akan terjadi kiamat, hingga tidak ada lagi di bumi ini yang berucap la ilaha illallah”. Saat itu manusia sudah sedemikian durhaka kepada Allah SWT, dan alam pun jengan dengan manusia.(MUKHRIJ/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button