Syiar Debar ‘Lebaran Mengikuti Makkah’ Oleh: Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Ibadah sejatinya harus berdasarkan dalil. Dalil bisa bersumber dari Al Qur’an, hadis, Ijma’ dan Qiyas. Memang masih ada sumber hukum atau dalil lain, namun selain yang empat di atas seluruhnya diperselisihkan para ulama, seperti istihsan, mashalih mursalah dan lainnya. Tetapi satu yang harus ditegaskan, bahwa mengikuti orang Makkah tidak termasuk sumber hukum atau dalil.

Ada orang yang tidak dapat melihat hilal Dzulhijjah, akhirnya menjadikan Makkah sebagai patokan. Jika di Makkah wuquf pada hari Jumat maka esoknya atau hari Sabtu berarti sudah lebaran Idul Adha, kita katakan bahwa ini tidak sah dijadikan dalil. Rasulullah SAW bersabda “Berpuasalah kamu karena melihat hilal (Ramadhan), berlebaran lah kamu karena melihat hilal (Syawal), berhajilah kamu karena melihat bulan (Dzulhijjah)…(HR. Al Bukhari)

Dari hadis di atas, jelas sekali tidak ada metode penentuan hari raya Idul Adha “ujug ujug” tanggal 10 Dzulhijjah, melainkan ditentukan kapan masuk bulan Dzulhijjah tanggal 1, jikapun cuaca tidak mendukung untuk melihat hilal, maka hitungan bulan tersebut digenapkan menjadi 30 hari. Dan Rasulullah SAW tidak pernah menyebut “Jika kalian tidak melihat hilal, maka ikutilah orang Makkah”, itu tidak pernah ada.

Dalam riwayat-riwayat lain, Rasulullah SAW justru mengatakan bahwa setiap negeri memiliki rukyatnya sendiri yang bisa jadi sama atau bahkan berbeda sama sekali. Jangankan antar Indonesia dan Saudi, bahkan antara Syam (Damaskus) dan Makkah saja bisa berbeda rukyat hilalnya. Inilah ajaran Rasulullah SAW yang perlu kita pahami, agar kita tidak latah dengan isu dan komentar yang beredar. (MUKHRIJ/Debar)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button