NGOPI BARENG JIACEP ‘Masyarakat Depok Masih Kurang Sadar Bahaya Covid-19’

DEBAR.COM.-DEPOK- ISOLASI diri, tetap diam di rumah, pakai masker dan jaga jarak untuk kesehatan kita semua… Hemmm… Kalimat atau kata itu hampir setiap petang selalu muncul dari seorang juru bicara Tim Gugus Tugas Penanganan Covid -19 Nasional Achmad Yurianto saat membacakan data jumlah masyarakat yang terpapar virus Corona, sembuh maupun masih dirawat di rumah sakit di seluruh Indonesia…

Kata atau kalimat itu seakan tidak asing bagi masyarakat yang hampir setiap saat melihat acara televisi nasional, swasta, media on line dan lainnya terkait penyebaran Covid-19 yang hampir merata terjadi di Indonesia bahkan dunia. Hingga pemerintah menyetujui adanya penanganan Covid-19 melalui program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) disejumlah propinsi, kabupaten dan kota…

Hemmm… Bagaimana dengan Kota Depok yang kita cintai… Coba liat saja walaupun Pemkot Depok melalui Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Mohammad Idris bersama seluruh jajaran Forkopimda telah melakukan 14 hari PSBB ternyata di lapangan masih saja masyarakat kita wara wiri dan seakan tidak mengiraukan penyebaran Covid -19 yang kasat mata itu….

Melihat penyebaran Covid -19 yang tidak pernah menurun bahkan terus bertambah terjadi di masyarakat. Wali Kota Depok Mohammad Idris setelah mengusullan ke Propinsi Jabar untuk penambahan waktu PSBB selama 14 hari ke depan mulai 29 April hingga 12 Mei 2020. Efektif atau berhasil kah.. Waalam binsawaf…

Pasalnya, masyarakat Kota Depok yang boleh dikatakan sebagai miniatur Indonesia dengan berbagai suku, agama, adat istiadat dan lainnya seakan bandel. Ngak percaya liat aja… Walaupun setiap perumahan, gang perkampungan, jalan lingkungan dan lainnya telah dipasang portal dengan spanduk besar bertulisan agar mereka keluar dan masuk, tamu maupun lainnya yang hilir mudik pakai masker tapi faktanya masih banyak yang ngeyel…

Entah apa yang ada di benak mereka. Dibulan Ramadhan atau puasa yang penuh berkah tentunya, Ngopi Bareng, tak mau dan pantas marah dan ngedumel… Selain berdosa juga kondisi sekarang sangat sensitif bagi semua masyarakat yang disuruh diam dirumah saja tidak boleh beraktivitas atau kerja…

Hemmm… Kesadaran masyarakat masih sangat rendah. Mereka tak mau ambil pusing. Bisa makan sehari-hari itu yang penting. Siapa yang beri makan keluarga jika mereka tidak mencari nafkah. “Pejabat hanya bisa menghimbau, tapi perut kami tidak keroncongan tak diperhatikan,” celoteh seorang teman lama di Pancoran Mas..

“Mati kelaparan itu yang kami takutkan, bukan karena corona. Lillahita Allah aja,” ujarnya sedih..

Saya apa sih… Saya bukan pejabat tapi sesama warga Depok yang ingin penyebaran virus Corona atau Covid -19 cepat berlalu dan perekonomian serta pembangunan kembali berjalan normal. Namun Ngopi Bareng tidak dapat berbuat banyak untuk memberi nasehat. Karena ini urusan perut. Bukan satu atau dua orang saja tapi satu keluarga… Cing…

Tidak hanya pemerintah saja namun di instagram pun sampai merilis stiker #DiRumahAja sebagai bentuk support untuk mengajak masyarakat untuk bertahan di rumah. Hanya saja kita tidak bisa memungkiri.

Ada banyak peran yang tidak bisa untuk #DiRumahAja. Rata-rata pekerjaan masyarakat adalah pekerja harian. Bila tidak bekerja mereka tidak akan ada asap di dapur. Mereka beralasan “Rela mati karena bekerja di luar daripada mati di rumah karena kelaparan”. Menangis hati saya mendengar ini.

Masyarakat Indonesia khususnya Depok, tidak punya rekam jejak disiplin yang kuat.  Kesadaran hukum yang baik akan melahirkan ketaatan hukum, sedangkan kesadaran hukum yang buruk akan melahirkan ketidaktaatan hukum.

Namun semua program, aturan maupun ketaatan hukum yang digaungkan melalui berbagai media cetak, elektronik, televisi hingga ribuan spanduk tidak akan berhasil atau malah diabaikan masyarakat jika yang menganjurkan atau pemimpin tidak bisa mengajak maupun memberikan contoh untuk memgajak masyarakat taat aturan atau hukum…. Hemmm…

He he he… Perlu juga dipertanyakan ke mapanan atau leadership Wali Kota Depok patut dipertanyakan. ”Pemimpin yang hebat itu melahirkan pengikut yang siap menjadi pemimpin. Bukan melahirkan pengikut yang membabi buta, keras kepala, dan tanpa nalar,” politikus AS Tom Peters.

Kembali lagi ke Kota Depok masih banyak kekurangan dan kendala dalam memerangi virus Corona atau Vovid -19 walaupun sudah melakukan program PSBB untuk dua tahap kurun waktu dua bulan ini…Ayo.. Deh.. Kita bantu Wali Kota Depok dengan Forkopimda serta tim gugus tugas penangan Covid -19 dalam memerangi virus kasat mata ini…

Jika semua mau sadar dan taat aturan tidak wara wiri seenaknya masyarakat tentunya cobaa dari Allah SWT… Insya Allah semua cepat selesai dan kembali ke kehidupan normal untum saling bahu membangun kota yang kita cintai ini… Aamiin…(AP/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button