
DEBAR.COM.-DEPOK- Ramadan adalah madrasah syukur. Di bulan ini, Allah ﷻ tidak hanya memerintahkan puasa, tetapi juga menegaskan tujuan akhirnya: “la‘allakum tasykurûn” (agar kamu bersyukur) (QS. Al-Baqarah: 185).
Ketika siang hari kita menahan lapar dan dahaga, kita sedang dididik untuk menyadari bahwa seteguk air dan sebutir nasi adalah nikmat yang luar biasa. Selama ini kita makan tanpa jeda, minum tanpa berpikir, tidur tanpa rasa kehilangan. Namun saat Ramadan, rasa haus beberapa jam saja sudah cukup membuat kita memahami betapa besar karunia Allah yang sering kita anggap biasa.
Syukur bukan sekadar ucapan alhamdulillah, tetapi kesadaran mendalam bahwa semua kenikmatan berasal dari-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Lebih dari itu, Ramadan mengajarkan bahwa nikmat terbesar bukanlah makanan saat berbuka, melainkan kemampuan untuk taat. Betapa banyak orang yang sehat tetapi tidak berpuasa, betapa banyak yang memiliki waktu luang tetapi tidak mengisinya dengan tilawah dan qiyam.
Maka ketika Allah masih memberi kita kesempatan berdiri di saf tarawih, membaca Al-Qur’an, dan meneteskan air mata dalam doa, itulah nikmat yang jauh lebih agung daripada sekadar hidangan iftar.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin… jika mendapat nikmat ia bersyukur, dan itu baik baginya”(HR. Muslim).
Ramadan adalah momentum untuk menguatkan syukur dengan lisan, hati, dan amal—agar setelah bulan ini berlalu, kita tetap menjadi hamba yang sadar bahwa hidup seluruhnya adalah anugerah. (MUKHRIJ/Debar)




