

DEBAR.COM.-DEPOK- Paling tidak ada sebuah ayat Ramadan yang sangat kental dengan kesan keluarga, yaitu QS. Al Baqarah : 187. Jika ‘diperas’ layaknya santan, maka hasil perasan ayat tersebut adalah agar berkumpul bersama keluarga, dan memperoleh keturunan, selain dari tuntunan puasa itu sendiri. Atau bisa dikatakan, ayat Ramadan ini berbicara tentang suami, istri, anak dan amalan puasa.
Senada dengan hadis Ramadan yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra bahwa ‘Rasulullah SAW biasa menghidupkan malam jika sudah masuk 10 hari terakhir Ramadan. Beliau juga membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya’. (Muttafaq ‘alaih).
Baca Juga: 100 Hari Pertama Kerja, Supian-Chandra Realisasikan Visi ‘Bersama Depok Maju’
Dua nash di atas seakan memberi isyarat kepada kita bahwa, bulan Ramadan memang bulan ibadah, tetapi jangan asyik dengan ibadahnya sendiri tanpa melibatkan keluarganya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW, atau tampakkanlah hasil ibadah Ramadan itu kepada keluarga.
Baca Juga: Bank BJB Komitmen, Dukung Penuh Penyaluran KUR untuk Akselerasi Sektor UMKM
Untuk kesan pertama, kiranya cukup lumrah. Ayah mengajak anaknya atau keluarganya ke masjid atau mengajak berpuasa. Tetapi untuk kesan kedua nampaknya agak jarang. Bahwa setelah kita asyik beribadah, kita harus menjadi lebih baik untuk keluarga, lebih sabar, lebih dermawan, lebih berkorban untuk kepentingan keluarga, bukan hanya memikirkan keinginan pribadi. (MUKHRIJ/Debar)




