DakwahTerkini

Syiar Debar ‘Membedah Tiga Wajah Achievement: Kekinian, Pseudo-Spiritual dan Perspektif Al-Quran’ Oleh: Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Di era digital, makna Achievement mengalami pergeseran besar. Banyak Influencer mempopulerkan pencapaian dalam bentuk harta, popularitas, dan pencitraan gaya hidup mewah. Achievement dinilai dari jumlah Followers, penghasilan pasif, atau liburan ke luar negeri. Capaian-capaian ini kemudian dijadikan standar sukses, hingga tak sedikit anak muda merasa gagal hanya karena tak bisa menyaingi ‘standar pencapaian’ para seleb daring. Padahal, banyak dari narasi itu hanyalah bagian dari strategi marketing atau pencitraan yang jauh dari kenyataan.

Namun, yang tak kalah bermasalah adalah bentuk Achievement yang diklaim spiritual, namun juga menyimpang. Misalnya, mengaku punya karomah, bisa terbang, bisa membaca pikiran, atau mendapatkan ‘wahyu’ tertentu di luar Al-Quran. Fenomena ini sering dibungkus dalam narasi keajaiban dan ‘kesaktian’, lalu dijadikan tolok ukur derajat spiritual seseorang. Padahal, dalam Islam, kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan diukur dari karomah atau keanehan metafisik, melainkan dari keimanan dan ketakwaannya, sebagaimana Firman Allah: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13).

Dalam konteks ini, baik achievement versi influencer maupun versi ‘spiritualis’ sebenarnya sama-sama mengandung kekeliruan makna. Keduanya mengandalkan penilaian manusia atau pengaguman publik, bukan keridhaan Allah. Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak menjadikan mukjizat sebagai identitas utama dalam berdakwah, melainkan akhlak, kesabaran, dan konsistensi dalam misi kenabian. Ketika para musyrikin menuntut mukjizat sebagai syarat iman, Allah menegaskan: “Bukankah cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) yang dibacakan kepada mereka?” (QS. Al-‘Ankabut: 51).

Achievement yang sejati dalam Islam adalah pencapaian yang mendapatkan nilai di sisi Allah, meskipun tidak dilihat manusia. Mungkin seseorang tak terkenal, hidup sederhana, dan jauh dari panggung digital, namun amalnya diterima, ilmunya bermanfaat, dan hidupnya berkah. Ini adalah bentuk pencapaian yang hakiki, seperti Sabda Nabi Muhammad SAW: “Berapa banyak orang yang rambutnya kusut, berdebu, tidak dianggap oleh manusia, namun jika ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya.” (HR. Muslim).

Baca Juga: Tingkatkan Mutu dan Kualitas Pendidikan, Disdik Depok Dorong Kompetensi Guru Lewat Workshop KKG

Karena itu, penting bagi umat Islam untuk kembali meluruskan standar pencapaian. Jangan terjebak pada glamor palsu media sosial, juga jangan silau oleh klaim-klaim spiritual yang tak bersumber dari wahyu. Kembalilah kepada Al-Quran dan sunnah sebagai tolok ukur prestasi hidup. Ketakwaan, keistiqamahan, kejujuran, dan kebermanfaatan sosial adalah achievement yang dijanjikan pahala kekal di akhirat. Itulah achievement yang hakiki dan layak diperjuangkan. (MUKHRIJ/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button