DakwahTerkini

Syiar Debar Ramadan Hari-10: ‘Anomali Puasa’ Oleh: Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Puasa diturunkan dengan tujuan yang jelas: la‘allakum tattaqūn* (QS. Al-Baqarah: 183). Namun yang sering terjadi justru anomali. Siang hari menahan lapar, tapi menjelang maghrib emosi meledak; di jalan mudah tersinggung, di rumah gampang membentak.

Seharian menahan makan, tapi saat berbuka berubah jadi pesta berlebihan—takjil menumpuk, minuman manis berlapis, seolah-olah ini momen balas dendam biologis.

Lapar iya, tapi lisan tetap ghibah di grup WhatsApp, jari tetap bebas menyindir di media sosial, mata tetap liar pada konten yang merusak hati.

Nabi ﷺ sudah mengingatkan, “Berapa banyak orang berpuasa, tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Artinya, yang ditahan hanya perut, bukan nafsu.

Puasa sejatinya latihan pengendalian diri total: menahan yang halal demi taat kepada Allah, agar yang haram lebih mudah ditinggalkan. Tetapi anomali muncul ketika siang terasa berat karena lapar, sementara malam ringan untuk begadang, hiburan, dan konsumsi berlebihan; tarawih terasa lama, tapi nongkrong terasa singkat. Kita merasa religius karena tidak makan dan minum, padahal ukuran puasa adalah perubahan akhlak—lebih sabar, lebih jujur, lebih bersih lisannya, lebih ringan sedekahnya.

Jika Ramadan hanya memindahkan jadwal syahwat, bukan mendidiknya, maka yang berjalan hanyalah ritual fisik, bukan transformasi ruhani. (MUKHRIJ/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button