

DEBAR.COM.-DEPOK- Lailatul Qadr bukanlah malam yang sekadar ditunggu, tetapi malam yang harus dijemput dengan kesungguhan ibadah. Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ justru meningkatkan kualitas ibadahnya secara luar biasa. Dalam hadis riwayat Aisyah binti Abu Bakar disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, Nabi mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya. Ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr tidak datang kepada orang yang pasif, tetapi kepada mereka yang bersungguh-sungguh mencarinya dengan sujud, doa, dan kedekatan kepada Allah.
Baca Juga: Sekda Depok: Warga Maupun ASN Diharapkam Ramaikan Bazar Raya Ramadan 2026
Karena itu, doa menjadi kunci utama untuk menjemput keberkahan malam tersebut. Bahkan ketika Aisyah binti Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang doa terbaik jika bertemu Lailatul Qadr, Nabi mengajarkan doa: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku).
Sujud yang panjang, doa yang tulus, dan hati yang penuh harap adalah cara seorang mukmin mengetuk pintu langit. Lailatul Qadr bukan hanya tentang satu malam yang mulia, tetapi tentang kesungguhan seorang hamba yang datang merendahkan diri di hadapan Tuhannya. (MUKHRIJ/Debar)




