Dampak Struktur dan Kultur Ekonomi Terhadap Ekonomi Umat
DEBAR.COM.-PANCORAN MAS, DEPOK- Pengusaha-pengusaha muslim Indonesia mengeluhkan kendala struktur dan kultur nasional. Secara dua sisi itu, sistem ekonomi Indonesia seakan tidak mendukung pengusaha muslim
Hal tersebut diungkapkan H. Acep Azhari Ketua Komisi Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Kota Depok, walaupun ada pengusaha muslim yang sukses di Kota Depok tetapi jumlah total pengusaha muslim di Kota Depok juga secara nasioonal masih sangat sedikit sekali.

“Ada dua kendala yang dihadapi para pengusaha yakni, persoalan pengusaha muslim itu, pertama adalah desain ekonomi nasional tidak cukup untuk mendorong lahirnya pengusaha muslim untuk muncul. Kedua dari budaya masyarakatnya, dimana masyarakat kita tidak dididik untuk menggunakan produk bangsa sendiri,” ungkap H. Acep saat acara Pengukuhan dan Rakerda 1 MUI Kota Depok Masa Khidmad 2019-2024, yang berlangsung di kantor MUI Kota Depok, Selasa (31/12/2019).
Desain ekonomi nasional, dicontohkan Acep, dari distribusi keuangan, dan bisa dilihat dari konteks perbankan. Ia mengatakan, bank syariah di Indonesia baru mencapai angka 20-30 persen. Dan bagi pengusaha-pengusaha muslim itu merupakan sebuah bahaya. Jadi dari akses desain ekonomi tidak kondusif.
Kemudian dari segi budaya, masyarakat Indonesia tidak diajarkan untuk menggunakan produk-produk dalam negeri. Sepertinya, bagi Acep, semakin lama Indonesia justru semakin ketinggalan. Pengusaha-pengusaha UKM bahkan dibawah 20 persen.

“Itu persoalan besar untuk ekonomi kita. Secara struktur dan kultur itu tidak mendukung, jadi harus kita perjuangkan. Rakerda MUI Kota Depok menjadi moment utk para pengurus menyuarakan agar mereka harus memiliki mental pengusaha pejuang, selain silaturahim kita ingin melakukan kontemplasi,” jelas Acep.
Dikatakan H. Acep, pengusaha pejuang, artinya mereka ya pengusaha ya berjuang juga untuk agama dan bangsa dalam satu tarikan nafas, akan merenungi dimana posisi umat Islam saat ini, dalam percaturan ekonomi dan dalam percaturan politik.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Pengusaha muslim Depok harus juga merenungi posisi bangsa Indonesia dalam globalisasi ini. Menurut Acep Indonesia semakin lama semakin terlihat tidak siap. Produk-produk yang berkembang justru produk orang-orang asing yang menguasai pasar, bukan produk dalam negeri.
“Makin banyak, kita melihat kondisi yang semakin jauh dengan cita-cita kemerdekaan. Kok makin lama proyek-proyek itu bukan anak-anak kita, tapi orang-orang asing, serbuan produk dari Cina dan sebagainya. Ini harus kita pikirkan dan sikapi,” jelasnya.
Dirinya menambahkan, dengan melihat berbagai kondisi itu, Program komisi mengambil tema ‘Saatnya Kita Bangkit’. Jika Indonesia paham posisinya, “Saya berharap agar spirit kebangkitan bisa ditanamkan pada seluruh pengusaha muslim Indonesia, terutama para pengusaha muslim Depok,” pungkasnya. (JIACEP/Debar)