DakwahTerkini

Syiar Debar Ramadan Hari-7: ‘Ujian Penguat Jiwa’ Oleh: Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Ramadan bukan sekadar bulan lapar dan dahaga, tetapi madrasah pengendalian diri. Allah ﷻ berfirman:
*يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ*

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi melatih jiwa agar naik derajat menjadi muttaqin.

Saat seseorang menahan diri dari yang halal di siang hari, sejatinya ia sedang membangun benteng untuk menjauhi yang haram sepanjang hidupnya. Godaan terasa lebih kuat justru karena iman sedang ditempa; sebagaimana besi yang dipanaskan agar menjadi kokoh, jiwa orang berpuasa diuji agar naik kelas secara spiritual.

Baca Juga: Qonita Lutfiyah: Bukan yang Pertama, Ketidakhadiran OPD Pemkot Pada Rapat Paripurna Disoroti DPRD Depok

Rasulullah ﷺ bersabda: “Puasa itu perisai”. (HR. Bukhari dan Muslim). Perisai tidak dipakai di ruang aman, tetapi di medan pertempuran. Maka ketika di bulan Ramadan godaan justru terasa menghantam—emosi mudah terpancing, media sosial menggoda, ghibah dan syahwat digital berseliweran—di situlah fungsi perisai diuji.

Jika kita mampu menahan lisan, pandangan, dan jempol dari hal sia-sia, maka Ramadan benar-benar menjadi ujian penguat jiwa. Semakin kuat kita bertahan, semakin kokoh karakter takwa yang terbentuk. Dan ketika Ramadan usai, yang tersisa bukan sekadar kenangan ibadah, tetapi jiwa yang lebih tangguh menghadapi kehidupan. (MUKHRIJ/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button