
DEBAR.COM.-DEPOK- Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dengan Literasi jelas berbeda tapi saling membutuhkan dalam kontek arti dan tujuan. MTQ dalam catatan sejarah menyebutkan cikal bakal MTQ itu sendiri dilaksanakan pada Tahun 1946 Lokal Sumatera Utara dan ada juga pada Tahun 1968 di Makasar.
Sesuai namanya MTQ sendiri di artikan dengan perlombaan membaca Al- quran. Penulis sendiri mengikuti MTQ sejak masa kanak – anak di Tahun 1977 masih SD masih fokus MTQ itu kegiatannya pada tilawah.
Pada perkembangannya, perhelatan MTQ dari hari ke hari dan tahun ke tahun selalu meningkat dalam sisi SDMnya dan juga dari sisi perlombaannya begitu juga dalam syiar dan juga perhatian pemerintah dengan di terbitkannya SK tiga menteri, sehingga memperkuat legitimasi dan perhatian pemerintah dalam setiap perhelatan MTQ dan menjadi kebanggaan sendiri pada masa lalu, salah satu buktinya adalah siapa yang tidak kenal dengan lagu Mars MTQ, jika ada kegiatan MTQ Tingkat Nasional lagu itu menghiasi media televisi dan radio yang digaungkan selama persiapan MTQ Nasional berlangsung, sehingga ketika terjadinya pelaksanaan MTQ itu sendiri menjadi pesta dan hiburan religius.
Masyarakat berbondong-bondong membanjiri tempat pelaksanaan MTQ dan terasa Ruh MTQ itu di masyarakat, namun sejalan dengan perkembangan tehnologi dan perkembangan SDM ada anomali yang terjadi :
1. MTQ berjalan dan berkembang dengan program yang lebih maju, tapi dari sisi pembinaan terjadi penurunan.
2. Dari sisi pelaksanaannya terlihat sejalan dengan perkembangan teknologi modern, tapi miskin sosialisasi, sehingga masyarakat tidak mengetahui adanya kegiatan MTQ.
3. Sejalan dengan makin majunya ekonomi, tapi dari satu sisi, perhatian dalam hal SDM berupa pembinaan dan perhatian serta penghargaan terjadi penurunan.
4. Pelaksanaan kegiatan MTQ tidak melibatkan orang-orang profesional dalam mengelola (faham dan pengalaman dalam MTQ) justru di kelola oleh birokrasi yang minim kolaborasi.
5. LPTQ sebagai lembaga yang mengakar sampai di pelosok desa tidak memiliki program yang jelas kecuali tahunan atau dua tahunan. Sehingga arah dan program LPTQ sudah terabaikan, kalaupun ada sekali lagi hanya program tahunan.
6. LPTQ dengan pendampingan pemerintah harusnya mampu menghasilkan pembinaan yg mengakar ke bawah, mengajak guru-guru lekar (sebagai penghargaan) melakukan pendampingan rutin baik di Masjid, Musala maupun Majlis Taklim yang hasilnya bisa kita rasakan tatkala pelaksanaan MTQ, karena masing-masing daerah sudah memiliki lumbung-lumbung pambinaan.
Baca Juga: IKMD Rayakan Harlah ke-16 Sekaligus Lantik Pengurus Baru Periode 2025 – 2027
Langkah sekarang adalah, melakukan literasi kepada seluruh lapisan masyarakat terkait tiga hal. Membaca, mangajar dan mentadabburkan Al-Quran. Literasi itu sendiri memiliki makna yang sangat penting dan cocok. Literasi adalah kemampuan individu untuk membaca, menulis, dan memahami informasi secara efektif dalam berbagai bentuk. Ini mencakup tidak hanya kemampuan dasar seperti membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan yang lebih luas seperti memahami, menginterpretasikan, dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah dan berpikir kritis.
Ini adalah Tugas pemerintah yang tercermin pada LPTQ dan sejalan dengan pelaksanaan MTQ, terutama menggairahkan kembali kecintaan masyarakat kepada MTQ atau STQ untuk motivasi belajar.
Sejalan dengan tema MTQH Kota Depok sekarang ‘Bersama Mewujudkan Masyarakat yang cinta Al-Quran dan Hadist untuk Depok yang Lebih Maju’, Literasi perlu digerakkan guna untuk mewujukan apa yang di harapkan dalam setiap kegiatan akbar MTQH atau STQH. (AR/Debar)




