DakwahOpiniTerkini

Pembangunan Masjid Kini Beralih dari Simbol ke Fungsi

DEBAR.COM.-DEPOK- Pembangunan Masjid mewah kini menjamur di banyak daerah. Kubah raksasa, menara tinggi, marmer mahal, dan interior yang memanjakan mata. Namun Al-Qur’an justru mengingatkan bahwa kemuliaan Masjid tidak terletak pada bentuknya, tetapi pada fungsinya.

Dalam QS At-Taubah:18, Allah memuji orang yang “memakmurkan” Masjid, bukan yang memperindah bangunannya. Tafsir maqāṣidī membaca kata ya‘muru sebagai “menghidupkan ibadah, pendidikan, dan pelayanan sosial”, bukan sebagai pembangunan simbol-simbol estetis.

Hadis Nabi, “Siapa yang membangun masjid karena Allah, Allah bangunkan baginya rumah di surga”, kerap dijadikan pembenaran untuk proyek masjid yang megah.

“Padahal, dalam pendekatan maqāṣid (Tujuan syariat), pahala itu terkait motivasi dan tujuan pembangunan bukan ornamen dan kemewahannya,” ujar Dosen Tafsir UIKA, Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA, Senin (24/11/2025).

Dikatakan Kiai Mukhrij, pada masa awal Islam, Masjid berdiri sederhana namun berfungsi maksimal. Menara digunakan untuk memudahkan muadzin dan melihat kondisi masyarakat, bukan sebagai monumen artistik seperti sekarang.

Ketika teknologi modern sudah menyediakan pengeras suara, pencahayaan, dan ventilasi yang efektif, berbagai komponen yang sangat mahal, kubah dekoratif, menara menjulang, atau lampu gantung bernilai ratusan juta, seringkali tidak lagi memiliki maslahat syar‘i.

“Kaidah fiqh menegaskan bahwa syariat bergerak bersama maslahat. Jika dana besar terserap untuk estetika yang tidak meningkatkan kenyamanan ibadah dan pendidikan, maka itu masuk kategori isrāf (pemborosan) yang bertentangan dengan semangat syariat,” jelasnya.

Baca Juga: Rumah Berkah Gelar Indonesia Berzikir 2025 Hadirkan Ulama dan Tokoh Terkemuka

Realitasnya, tidak sedikit Masjid yang semakin megah namun kegiatan keilmuannya sedikit, takmirnya minim dukungan, dan fungsi sosialnya lemah. Masjid berubah menjadi “simbol gengsi” ketimbang ruang publik umat.

“Kritik ini bukan menolak keindahan, tetapi mengajak kembali kepada orientasi dasar yang dituntun ayat dan hadis. Masjid harus memudahkan ibadah, menguatkan ilmu, merawat solidaritas sosial, dan menjadi pusat pembinaan umat,” ucapnya.

Ia menambahkan, karena itu, Membangun Masjid hari ini harus memprioritaskan fungsi di atas simbol. Pahala besar bukan untuk kubah paling mahal atau menara tertinggi, tetapi untuk masjid yang betul-betul menghidupkan umat.

Sudah saatnya Pembangunan Masjid di Indonesia kembali pada maqāṣid, sederhana, efektif, ramah jamaah, dan penuh manfaat, persis seperti ruh masjid pada masa Rasulullah,” pungkasnya. (AR/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button