DakwahTerkini

Syiar Debar Ramadan Hari-12: ‘Paradoks Efisiensi dan Hedonisme Pejabat’ Oleh: Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Narasi efisiensi anggaran demi kepentingan rakyat sering disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan administratif. Program dipangkas, fasilitas dibatasi, dan berbagai pengeluaran ditekan atas nama penghematan. Dalam Islam, efisiensi dan anti-pemborosan memang merupakan nilai fundamental, sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan” (QS. Al-Isra’: 27).

Namun ironi muncul ketika penghematan hanya diberlakukan pada sektor publik, sementara dalam urusan hiburan, perjalanan mewah, dan gaya hidup pribadi justru tampak berlebihan. Di sinilah paradoks itu terjadi: efisiensi menjadi kebijakan struktural, tetapi tidak menjelma sebagai etika personal.

Baca Juga: Alumni SMPN 10 Jakarta Gelar Reuni dan Buka Puasa Bersama

Ramadan sejatinya menjadi momentum muhasabah bagi para pemegang amanah. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi melatih pengendalian diri dan empati sosial. Allah menegaskan tujuan puasa adalah “la‘allakum tattaqun” (QS. Al-Baqarah: 183), agar lahir ketakwaan yang tercermin dalam integritas dan kesederhanaan. Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi” (HR. Bukhari dan Muslim), bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

Maka, Ramadan menguji konsistensi antara kebijakan efisiensi dan gaya hidup pribadi. Jika penghematan benar-benar diniatkan untuk rakyat, ia harus terlebih dahulu tercermin dalam keteladanan, bukan berhenti pada retorika. (MUKHRIJ/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button