
DEBAR.COM.-DEPOK- Di era digital, kemaksiatan tidak lagi selalu berbentuk tindakan fisik, tetapi menjelma dalam aktivitas harian yang dianggap sepele. Ghibah kini hadir dalam bentuk komentar, unggahan, dan potongan video yang mempermalukan orang lain.
Allah berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya”.(QS. Al-Ḥujurāt: 12).
Stalking media sosial yang melahirkan hasad, prasangka, bahkan fitnah, juga termasuk pintu dosa hati. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan satu kalimat yang ia anggap ringan, namun karena itu ia terjerumus ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Lisan dan jari-jemari kita hari ini menjadi saksi, apakah ia digunakan untuk kebaikan atau justru menumpuk dosa tanpa disadari.
Baca Juga: Majlis NUN Bersama AJM dan Adeem Tours Gelar Ramadan Mubarak Dengan Berbagi Takjil
Namun sebesar apa pun kemaksiatan, pintu ampunan Allah selalu terbuka. Allah menegaskan, “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”. (QS. Az-Zumar: 53).
Taubat bukan sekadar ucapan, tetapi berhenti dari dosa, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya. Menghapus unggahan yang menyakiti, meminta maaf atas ghibah, serta menjaga pandangan dan hati dari iri dan prasangka adalah bagian dari taubat nyata di zaman ini. Siapa yang menjauhi kemaksiatan, niscaya ia sedang melangkah menuju ampunan dan kemuliaan di sisi-Nya. (MUKHRIJ/Debar)




