Syiar Debar ‘Hajimu Disisi Orang Miskin’ Oleh: Dr. KH. Mukhrij Sidqy, MA

DEBAR.COM.-DEPOK- Haji adalah bagian dari rukun Islam yang wajib ditunaikan jika memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Tetapi yang perlu dipertegas bahwa perintah wajibnya hanya untuk satu kali (‘adamu at-tikrar). Maka haji kedua, ketiga dan seterusnya bukanlah kewajiban, bahkan bukan termasuk amalan yang diprioritaskan dalam Islam.

Rasulullah SAW memiliki kesempatan paling tidak untuk 3 kali berhaji, yaitu tahun ke-8, 10 dan 11, tetapi beliau hanya melaksakan satu kali haji saja yang kemudian disebut dengan haji wada’ (perpisahan). Artinya, kalau haji kesekian kalinya adalah amalan prioritas tentu Rasulullah SAW pasti memprioritaskannya. Tetapi tidak, beliau menghabiskan waktunya untuk berdakwah dan mengurusi kepentingan umat.

Haji membutuhkan biaya yang tidak sedikit, serta kekuatan fisik yang mumpuni. Tetapi pengerahan kemampuan finansial dan fisik tersebut bisa jadi tidak begitu istimewa dalam syariat. Mengapa? Karena banyak amalan yang sejatinya lebih utama dari pada haji dan umroh yang kesekian kalinya. Rasulullah SAW menyebut diantaranya, berbakti kepada orang tua, memberi makan orang lapar, menyebarkan salam (kedamaian) dan salat malam.

Maka, jika kita sudah berhaji atau umroh, tetapi masih memiliki harta untuk melakukan perjalanan, akan sangat utama jika diberikan kepada saudara semuslim untuk bisa melaksanakan umroh atau haji, bahkan boleh jadi doanya lebih maqbul dari doa kita sendiri di baitullah. Atau berikanlah harta kita untuk membantu yang susah, anak yatim terlantar, itulah haji kita sesungguhnya.(MUKHRIJ/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button