MUI dan FKH Ajak Komunitas Beragama Menjaga Kelestarian Alam

DEBAR.COM.-SAWANGAN, DEPOK- Permasalahan lingkungan dan kelestarian alam telah menjadi permasalahan global. Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (PP MUI) dan Forum Komunitas Hijau (FKH) bersama tokoh lintas agama mengajak menjaga kelestarian alam. Banyak pelajaran berharga dengan adanya pandemi Covid-19, krisis energi, krisis pangan, bencana alam dan lainnya. Menjaga kelestarian alam merupakan tanggung jawab agama, konstitusi dan semua pihak.

“Manusia mempunyai  mandat untuk eksploitasi dan konservasi alam.  Jangan sampai, negara kalah dengan pemodal bagaimana ada tumpang tindih tata ruang dan lainnya. Untuk itu, saatnya kita bergerak di  tingkat praktis untuk  merawat lingkungan hidup,” ujar <span;>Wasekjen PP MUI, KH. Abdul Manan dalam acara <span;>Refleksi Akhir Tahun Dialog Tokoh Lintas Agama untuk Tata Ruang dan Lingkungan yang Sehat. Joglo Nusantara, Situ Pengasinan, Sawangan, Minggu (11/12/2022).

Dikatakan Abdul Manan, manusia bersekutu pada tiga hal diantaranya: air yang tidak boleh diswastanisasi. Ia manambahkan, energi yang dikelola Pemerintah harus memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk masyarakat. Begitu juga, lanjutnya, dengan hutan yang harus dikelola dengan baik sebagaimana dalam konstitusi bumi dan alam dikuasai negara dan sebesar-besarnya untuk rakyat.

“Merawat bumi juga mandat konstitusi. Pada saat ini, bersama tokoh lintas agama, ada kesepakatan bersma penting rawat bumi dan memperhatikan lingkungan hidup,” ujar.

Sementara Koordinator FKH Depok Heri Syarifudin berharap agar dalam kerukunan beragama ini menjadikan isu bersama pada lingkungan. Menurutnya, semua agama memiliki kesamaan dalam kepedulian menjaga kelestarian alam. Namun, moral agama tidak menjadi rujukan regulasi yang menjadi persoalan, perspektif ekonomi dan lainnya.

“Semoga agama bisa  ambil etika dan peradaban di depan, sebab hari ini dinilai sangat jauh. Harapannya agama punya tempat strategis, menjadi mekanikal di dunia yang harus diselesaikan. Ke depan bisa ditindaklanjuti dengan bekerjasama dengan para aktifis dan penggiat lingkungan. Harapannya bisa memberikan panduan praktis dan teknis untuk khutbah di masjid atau tempat ibadah lainnya. Adanya rekayasa sosial kembali agama dan etik ini,” paparnya.

Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan RI, Sarwono Kusuma Atmaja menyoroti pertemuan tokoh lintas agama yang diprakarsai MUI. Menurutnya, pertemuan saat ini menjadi titik awal dan kedepan harus ada pembuktian atau kenyataan. Dirinya berharap seperti  Joglo Nusantara harus ada replikasi dan jaringan dimana-mana.

“Ke depan agar terasa ada semacam kultur baru dan kita sebarkan bibit yang berawal dari pertemuan inu. Ada fokus perhatian apa yang ingin diperlihatkan, jangan sampai institusi terlihat besar dan alami keruntuhan dimana-mana. Jangan remehkan suatu belum lazim karena belum lazim bisa jadi kelaziman. Ke depan pemuda menjadi perintis,” ungkapnya.

Hal serupa menanggapi pertanyaan terkait peran agama yang kurang terlihat dalam usaha pelestarian lingkungan. Sarwono mengungkapkan terkait peran tokoh lintas agama dalam usaha melestarikan alam harus menjadi kesepakatan bersama. Artinya, tiap tokoh pemimpin agama memperlihatkan identitas dirinya agar dilihat khalayak. Secara fisik menampilkan agama, mereka berbeda tapi  timbul usaha kebersamaan.

“Mengutip pernyataan Eakil Ketua MUI kerukunan umat beragama ada 3 aspek yang perlu diamati yaitu: aspek afektif, kognitif dan  psikomotorik. Selama ini kognitif dan psikomotorik yang sudah berjalan tinggal  Afektif harus diperkuat,” katanya.

Bante Mahasupo Mahatera tokoh Budhis Indonesia  juga menyampaikan komitmennya dalam upaya menjaga kelestarian alam. Menurut ajaran Budha juga mengajarkann menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Tidak hanya teori, namun ajaran tersebut sudah dipraktekkan dengan baik. Bahkan, ajaran tersebut juga sudah diikuti oleh negara-negara yang sudah berlangsung lama. Menurutnya, para leluhur mengajarkan kearifan melalui penghormatan dan pemuliaan pada pepohonan. Namun, dengan alasan musyrik dan motif ekonomi menghapus tradisi tersebut.

“Tentu, nilai-nilai agama ini mengajarkan untuk melestarikan alam, menjaga hutan agar kehidupan berlangsung dengan baik. Terlebih lagi, bisa didukung dengan kontitusi negara untuk menjaga konservasi alam,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut nampak hadir Yusna Yusuf Wakil  Ketua Bidang Kerukunan MUI, Dr Mukhit Gozali Ketua Komisi KAUB MUI Pusat memberikan closing statement. Pengurus Matakin Pusat WS Mulyadi dan Pendeta Jimmy dan PGI menyampaikan materi terkait lingkungan. Disamping itu perwakilan dari ormas, aktifis dan penggiat  lingkungan turut hadir.

Di sela acara diisi dengan pelepasan ikan ke kolam, pelepasan burung dan penanaman pohon sebagai simbol kepedulian lingkungan. (MFR/Debar)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button