
DEBAR.COM.-DEPOK- Ada yang unik dari masyarakat Arab Jahiliyah. Sebagaimana maklum bahwa mereka menyembah (men-tuhan-kan) berhala, tetapi di saat yang sama, jika ditanyakan kepada mereka, siapa pencipta langit dan bumi, mereka akan kompak menjawab Allah. Jika ditanyakan kepada mereka siapa pemelihara semesta, mereka akan kompak menjawab Allah, tetapi setelah itu yang mereka ilah (tuhan)-kan bukan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS. Az Zumar : 38 “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: Allah.
Ilah menurut wilayah Arab Utara berasal dari kata “Alaha’ yang artinya mencintai, mendekati, mendambai. Maka, Ilah versi Utara adalah yang dicintai, didambai, didekati. Sedangkan versi Arab Selatan berasal dari kata Laha yang artinya mematuhi, mentaati, menyembah. Maka, Ilah versi Selatan artinya yang ditaati, dipatuhi dan disembah.
Indonesia menjadi salah satu negara paling religius di dunia dengan dalam sebuah artikel The Global God Devide. Artinya jika ditanya apakah butuh tuhan, 95% menjawab butuh, dan memang 95% beragama. Tetapi data membuktikan bahwa perilaku masyarakat Indonesia agak bertolak belakang dengan ajaran agama, seperti korupsi, tidak jujur, kotor, tidak disiplin jika tidak di awasi. Hingga muncul istilah takut atasan, tidak takut Tuhan.
Orang yang lebih mematuhi atasannya berarti Tuhannya adalah atasan. Orang yang lebih mendambai hartanya, maka tuhannya adalah harta, dan agamanya adalah materialisme (paham yang menjadikan materil sebagai dasar segalanya). Ada pula orang yang menjadikan dirinya, hawa nafsunya sebagai tuhannya, asal senang akan dilakukan tidak perduli haram, asal nikmat akan dikerjakan tidak peduli dilarang. Hingga Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Jatsiyah : 23 “Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya”.
Maka, sama-sama kita renungi, belakangan ini apa yang paling kita dambai, taati, patuhi, dekati, itulah sejatinya tuhan kita. Hanya satu obatnya, jaga iman kita dengan la Ilaha Illa Allah (Tuhan hanya Allah), yang didekati, dirindui, taati, dekati, segala-galakan hanyalah Allah. Tancapkan itu di dalam hati kita dengan memperbanyak merenungi serta membacanya agar selamat dari kesyirikan modern. (MUKHRIJ/Debar)




