Belajar dari Panggung LCC 4 Pilar MPR RI 2026: Siapa yang Sedang Dididik?

DEBAR.COM.-DEPOK- Peristiwa yang terjadi dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar yang digagas MPR RI menghadirkan kegelisahan bagi banyak insan pendidikan, dimana ketika seorang Peserta Didik menjawab pertanyaan dengan benar, namun justru mendapat perlakuan yang kurang pantas dari Dewan Juri maupun MC, bahkan kritik yang disampaikan peserta dianggap sebagai gangguan dan dibungkam, maka sesungguhnya kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar dari sekedar kesalahan teknis sebuah perlombaan.
Tokoh Pendidikan Kota Depok, H. Acep Azhari menuturkan, bahwa kejadian pada ajang LCC ini menjadi cermin penting bagi dunia pendidikan kita. Sebab pertanyaan sesungguhnya bukan lagi tentang siapa yang benar atau salah dalam lomba tersebut, melainkan: Siapa sebenarnya yang sedang dididik?
“Anak-anak hari ini tumbuh di zaman yang menuntut keberanian berpikir, kemampuan berdialog, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Ketika seorang siswa berani menyampaikan kritik dengan santun lalu tidak diberi ruang untuk didengar, maka yang terluka bukan hanya mental peserta didik itu, tetapi juga nilai dasar pendidikan yang seharusnya memerdekakan pikiran,” ujar Jiacep sapaan akrabnya, Kamis (14/05/2026) sore.

Jiacep mengajak seluruh pendidik, kepala sekolah, pengawas, hingga semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan untuk menjadikan peristiwa ini sebagai bahan introspeksi bersama.
“Jangan-jangan tanpa sadar, kita pun pernah melakukan hal serupa di ruang kelas: memotong pendapat murid, menolak kritik mereka, atau merasa otoritas kita terganggu ketika anak didik berani berbeda pandangan,” jelasnya.
Jiacep mengatakan, pendidikan bukan hanya soal siapa yang paling tahu, melainkan siapa yang paling mau belajar, termasuk belajar mendengar dari anak-anak kita sendiri.
Ia menambahkan, seorang guru yang hebat bukanlah guru yang selalu merasa benar, tetapi guru yang mampu bersikap adil, bijak, dan rendah hati dalam menghadapi muridnya.
“Semoga dari panggung LCC ini, lahir kesadaran baru bahwa pendidikan yang baik bukan pendidikan yang membungkam nalar, melainkan yang memberi ruang bagi keberanian berpikir dan kejujuran menyampaikan kebenaran,” pungkasnya. (AR/Debar)




